SAYA MENCINTAI SOSOK WANITA SEPERTI IBU SAYA :)
Tampilkan postingan dengan label Kasih Ibu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kasih Ibu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 30 Oktober 2011

Semua Untuk Ibu


Namun, ada sisi keceriaan lain di bulan ini. Keceriaan yang mengekspresikan sebuah perasaan yang mendalam. Hari dimana ungkapan sayang yang jarang terdengar dari seorang anak diungkapkan pada hari tersebut. Hari tersebut adalah hari ibu.

Ibu, satu tokoh yang akan terus menjadi peran utama dalam kisah hidup setiap manusia di dunia. Tokoh yang menorehkan banyak warna di sepanjang hidupnya bagi putra-putrinya. Seringkali keasyikannya menorehkan warna membuat dirinya kelelahan. Namun, kata lelah pun tidak pernah engkau tunjukkan. Kata tersebut akhirnya diganti dengan senyuman bahagia karena berhasil memberikan gradasi warna indah bagi putra-putrinya.


Ibu, kami tahu begitu banyak waktumu tercurah untuk memikirkan goresan warna apa yang akan diberikan untuk kami. Ketika kami belum lahir, engkau sudah memulai memikirkan warna apa yang akan kau berikan untuk kami. Semenjak kau tahu akan menjadi ibu, setiap harinya kau rela menuju pasar pagi-pagi untuk mendapatkan sayur, daging, ikan, dan buah-buahan dengan kualitas terbaik. Katamu,” ini untukmu anakku”.

Lalu ketika pada akhirnya kami diberikan kesempatan oleh Tuhan untuk bertemu dan mendampingimu, segala daya upaya agar kami mendapatkan yang terbaik, engkau lakukan tanpa henti. Setiap malam, kau rela tak tertidur, hanya untuk memastikan tidak ada nyamuk yang menggigit tubuh mungil ini. Belum lagi, ketika kami mulai masuk sekolah, kau dengan sigapnya memasakkan sarapan dan mengantarkan kami ke sekolah.

Ketika kuliah, engkau dengan tegar dan kuatnya berjibaku dengan ribuan manusia di luar sana hanya untuk membiayai kuliah dan tersenyum bahagia melihat nama anaknya diikuti dengan gelar sarjana.
Namun, goresan warna tersebut kini luntur. Ibu menangis. Ada yang bertutur anaknya meninggalkannya di panti jompo ketika dia memasuki usia senja.

Lalu, adapula yang sedang menahan tangis ketika melihat anaknya berjuang melawan sakaw di panti rehabilitasi. Tidak sedikit pula, ada yang berjuang melawan tajamnya omongan orang karena anaknya mengandung di luar nikah. Di luar sana, bahkan ada ibu yang menangis karena disiksa oleh majikannya, parahnya anaknya di sini asyik bermain dan menghabiskan uang dengan santainya.

Maafkan kami, Ibu.
Kami ingin kau berhenti menangis, Ibu. Tahukah kau ibu, kami belajar keras untuk mendapatkan peringkat baik di kelas. Lalu, ketika kami memberikan sisa uang jajan kami ke pengemis di jalanan.

Setelah itu, kami belajar cara berdoa setiap malam. Di lain kesempatan, kami juga menahan rasa marah dan sedih ketika engkau dihina karena perkerjaanmu. Ini semua untukmu, Ibu. Walaupun tidak seberapa, namun kami ingin engkau tersenyum kembali. Setidaknya, Tuhan memberikan catatan amal untuk bekalmu ke suga nanti.

Kini, anakmu sudah dewasa. Kami ingat betul, ketika engkau mengucap syukur tiada henti karena anakmu diterima di perguruan tinggi terbaik di negeri ini. Walaupun kami tahu, kepalamu pening memikirkan biaya setelahnya.

“Belajar yang rajin ya, nak. Biar jadi sarjana, gak bodoh kaya ibu”, kata itu yang kau berikan untuk mengatarkan kami masuk ke gerbang pendidikan yang lebih tinggi itu.

Lalu, setelahnya kami tahu kau tak kunjung henti berdoa. Alhasil, prestasi dan beasiswa kami dapatkan. Ini untukmu, Ibu. Berkat doamu, kami sekarang berada di tempat ini, bertemu dengan orang pintar dan hebat. Sosok-sosok yang memberikanmu inspirasi untuk mendoakan kami agar menjadi seperti mereka.

Terima kasih, ibu. Kami berjanji tidak akan membiarkan goresan warna yang kau torehkan luntur. Kami akan melakukan apapun untuk menjaganya karena hanya ini yang dapat kami lakukan untukmu, Ibu.
“Selamat Hari Ibu”
Read More..

Semua Tentang Ibu

Orang bilang aku lahir dari perut ibu..

Bila haus, yang susukan aku.. ibu

Bila lapar, yang suapkan aku..ibu

Bila keseorangan, yang sentiasa di sampingku.. ibu

Kata ibu, ucapan pertama yang aku sebut.. Bu!

Bila bangun tidur, yang aku cari.. ibu

Bila menangis, orang pertama yang datang ..ibu

Bila mau bermanja… aku dekati ibu

Bila mau duduk… aku duduk sebelah ibu

Bila sedih, yang bisa membujukku hanya ibu


Bila nakal, yang memarahi aku… ibu

Bila merajuk… yang membujukku cuma..ibu

Bila melakukan kesalahan… yang paling cepat marah..ibu

Bila takut… yang tenangkan aku.. ibu

Bila mau peluk… yang aku suka peluk..ibu

Aku selalu teringatkan ..Ibu

Bila sedih, aku pasti telpon… Ibu

Bila senang… orang pertama aku mau beritahu… Ibu

Bila sedih.. aku suka cerita pada ..Ibu

Bila takut, aku selalu panggil.. “ibuuuuuuuuuuuuu! “

Bila sakit, orang paling risau adalah ..Ibu

Kalau mau ujian, orang paling sibuk juga Ibu

Bila ada masalah, yang paling risau..Ibu

Yang masih peluk dan cium aku sampai hari ni.. Ibu

Yang selalu masak makanan kegemaranku. . Ibu

Yang selalu simpan dan kemaskan barang-barang aku, Ibu

Yang selalu sering telepon aku.. Ibu

Yang selalu puji aku.. Ibu

Yang selalu nasihat aku.. Ibu

kalau mau menikah..Orang pertama aku tunjuk dan rujuk… Ibu

Aku ada pasangan hidup sendiri

Kalau senang… aku cari pasanganku

Kalau sedih… aku cari Ibu

Kalau sukses … aku ceritakan pada pasanganku

Kalau gagal… aku ceritakan pada Ibu

Kalau bahagia, aku peluk erat pasanganku

Kalau berduka, aku peluk erat Ibuku

Kalau mau berlibur.. aku bawa pasanganku

Kalau sibuk… aku hantar anak ke rumah Ibu

Kalau sambut valentine… Aku hadiahi bunga pada pasanganku

Kalau sambut hari ibu… aku cuma kirim ucapkan Selamat Hari Ibu

Selalu… aku ingat pasanganku

Selalu… Ibu ingat aku

setiap saat aku akan telepon pasanganku

Entah kapan. aku mau telepon Ibu Selalu…

aku belikan hadiah untuk pasanganku

Entah kapan.. . aku belikan hadiah untuk Ibuku

Renungkan andai saja:

Dulu Ibu kata: “Kalau kamu sudah habis belajar dan berkerja… bolehkah kamu kirim uang untuk Ibu?
Ibu bukan mau banyak..100rb sudah cukup”.Berderai air mata.
Hari ini kalau Ibu mau 1jt pun aku mampu. Aku boleh kirimkan.
Tapi Ibu sudah tiada.Ingatlah pengorbanan ibuuuuu…
Read More..

Kamis, 27 Oktober 2011

Curhat Alanda, Doa Anak Buat Sang Ibu

Curahan hati sesungguhnya didasari pada satu aspe yaitu aspek perasaan. Bagaimana kita dapat memahami arti perasaan itu. Sebenernya kita ingin saja menceritakan segala sesuatu dengan orang lain, orang lain yang dapat mengerti, memahami hal itu.
berikut adalah Curhatan hati seorang anak dan ibunya. yuk kita lihat!

Jika ditanya apa cita-cita saya, saya hampir selalu menjawab bahwa saya ingin membuat Ibu saya bangga. Tidak ada yang lebih menyenangkan dibanding mendengar Ibu menceritakan aktivitas saya kepada orang lain dengan wajah berbinar-binar. Semua mimpi yang saya bangun satu per satu, dan semoga semua bisa saya raih, saya persembahkan untuk beliau.


Belakangan ini, kita dibombardir berita buruk yang tidak habis-habisnya, dan hampir semuanya merupakan isu hukum. Saya… tidak henti-hentinya memikirkan Ibu. Terbangun di tengah malam dan menangis, kehilangan semangat untuk melakukan kegiatan rutin (termasuk, surprisingly, makan), ketidakinginan untuk menyimak berita… Entah apa lagi.

Selasa, 25 Januari 2011, periode ujian akhir semester dimulai. Hari itu juga, Ibu harus menghadiri sidang pembacaan tuntutan. Hampir tidak ada yang tahu apa yang terjadi dengan Ibu saya, yang sejak bulan September 2005 bekerja di Bank Century.

Hanya keluarga dan kerabat dekat kami yang mengetahui bahwa Ibu menjadi tersangka di beberapa kasus yang berhubungan dengan pencairan kredit di Bank Century. Sidang pembacaan tuntutan kemarin merupakan salah satu dari beberapa sidang terakhir di kasus pertamanya.

Sejak Bank Century di-bailout dan diambil alih oleh LPS, kira-kira bulan November 2008 (saya ingat karena baru mendapat pengumuman bahwa terpilih sebagai Global Changemaker dari Indonesia), Ibu sering sekali pulang malam, karena ada terlalu banyak pekerjaan yang harus diselesaikan.

Saya jarang bertemu beliau. Bahkan, ketika saya berulang tahun ke-18, saya tidak bertemu dengan Ibu sama sekali karena beliau masih harus mengurus pekerjaan di kantor. Itu pertama kalinya saya berulang tahun tanpa Ibu. Seiring dengan diusutnya kasus Century, Ibu harus bolak-balik ke Bareskrim untuk diinterogasi oleh penyidik sebagai saksi untuk kasus-kasus yang melibatkan atasan-atasannya.

Sejak saya kecil, Ibu saya harus bekerja membanting tulang agar kami bisa mendapat hidup yang layak–agar saya mendapat pendidikan yang layak. Ketika saya duduk di SMP, beliau sempat di-PHK karena kantornya ditutup. Kami mengalami kesulitan keuangan pada saat itu, sampai akhirnya saya menerbitkan buku saya agar saya punya “uang saku” sendiri dan tidak merepotkan beliau, maupun Papa.

Ibu sempat menjadi broker properti, berjualan air mineral galonan, sampai berjualan mukena. Adik pertama saya, Aisya, ketika itu masih kecil. Ibu pun mengandung dan melahirkan adik kedua saya, Fara. Akhirnya, ketika buku saya terbit, beliau mendapat pekerjaan di Bank Century. Papa sudah duluan bekerja di sana, tetapi hanya sebagai staf operasional.

Saya lupa kapan… tetapi pada suatu hari, saya mendengar status Ibu di Bareskrim berubah menjadi TSK. Tersangka.

*****

Itu merupakan hal yang tidak pernah terlintas di pikiran saya sebelumnya. Tersangka? Dalam kasus apa? Dituduh menyelewengkan uang?

Sejak Ibu bekerja di Century, hidup kami tetap biasa-biasa saja. Jabatan Ibu sebagai Kepala Divisi boleh dibilang tinggi, tetapi tidak membuat kami bisa hidup dengan berfoya-foya. Orang-orang di kantor Ibu bisa punya mobil mahal, belanja tas bagus, mаkе up mahal… Tidak dengan Ibu. Mobil keluarga kami hanya satu, itu pun tidak mewah. Saya sekolah di SMA negeri dan tidak bisa memilih perguruan tinggi swasta untuk meneruskan pendidikan karena biayanya bergantung pada asuransi pendidikan.

Ibu tidak membiarkan saya mendaftarkan diri untuk program beasiswa di luar negeri–beliau khawatir tidak bisa menanggung biaya hidup saya di sana. Papa di-PHK segera setelah kasus Century mencuat ke permukaan. Papa tidak bekerja, hanya Ibu yang menjadi “tulang punggung” di keluarga saya. Papa dan saya sifatnya hanya “membantu”.

Saat itu, berat sekali rasanya, Ibu memiliki titel “tersangka” di suatu kasus. Saya tidak bisa mendeskripsikan perasaan saya ketika itu. Saya duduk di Kelas III SMA tatkala status Ibu berubah. Ibu jatuh sakit karena tertekan. Tepat satu hari sebelum Ujian Akhir Nasional, Ibu harus diopname, dan saya baru tahu pukul 10 malam karena keluarga saya khawatir hal ini akan mengganggu konsentrasi saya dalam menjalani ujian. Saya tidak lagi bisa memfokuskan pikiran saya terhadap UAN SMA. Pikiran saya hanya Ibu, Ibu, dan Ibu.

Sejak itu, hidup kami benar-benar berubah… walau dari luar, Ibu dan Papa berusaha terlihat biasa-biasa saja. Mereka tidak cerita banyak kepada saya. Mobil dijual dan mereka membeli yang jauh lebih murah. Kami jarang pergi jalan-jalan dan saya jarang mendapat uang jajan. Kami lebih jarang menyantap pizza hasil delivery order. Sopir diberhentikan dan hanya punya satu pembantu di rumah.

Ibu dipindahkan ke kantor cabang, sementara Papa mengalami kesulitan mencari pekerjaan. Saya beruntung, mereka berdua tidak pernah menahan saya dari melakukan hal-hal yang saya mau lakukan, terutama aktivitas Global Changemakers dan IYC. Tapi, saya sadar, bahwa hidup kami benar-benar berubah.

I саn live wіth thаt. I’m willing tο work раrt time, ԁο internships, аnԁ work mу ass οff tο publish more аnԁ more books іf іt wουƖԁ hеƖр mу parents, especially mу mother. Although I don’t hаνе mу οwn car аnԁ I саn’t shop luxurious stuff јυѕt Ɩіkе mу friends ԁο, I’m hарру, аnԁ I’m willing tο live Ɩіkе thаt. Saya mau, meski hal tersebut pasti melelahkan.

Saya memilih beasiswa dari Binus International dibanding Universitas Indonesia, salah satunya juga supaya orangtua saya tidak perlu lagi membiayai pendidikan saya. Supaya uang untuk saya bisa digunakan untuk membiayai pendidikan adik-adik saya. Saya ingin mereka bisa les bahasa Inggris bertahun-tahun seperti saya dulu… siapa tahu mereka bisa memenangi kompetisi-kompetisi internasional yang bergengsi.

Awalnya pun berat bagi Ibu, tetapi lambat laun, Ibu sangat ikhlas. Ibu jarang membagi kesulitannya kepada saya–selalu disimpan sendiri atau dibagi ke Papa. Beliau hanya mengingatkan saya untuk tidak lupa shalat dan berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai-nilai yang baik agar beasiswa tidak dicabut. Dari apa yang dialami Ibu, saya belajar untuk tidak dengan mudah memercayai orang lain. Ibu orang baik dan hampir tidak pernah berprasangka buruk. Tapi, sepertinya kebaikannya justru dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain.

Ibu dituduh terlibat dalam pencairan beberapa kredit bermasalah, yang disebut sebagai “kredit komando” karena bisa cair tanpa melalui prosedur yang seharusnya. Beberapa kredit cair tanpa ditandatangani oleh Ibu sebelumnya. Padahal, seharusnya semua kredit baru bisa cair setelah ditandatangani oleh beliau yang menjabat sebagai Kepala Divisi Corporate Legal. Ya, tidak masuk akal.

“Kredit komando” ini terjadi atas perintah dua orang yang mungkin sudah familiar bagi orang-orang yang mengikuti kasus Century melalui berita, Robert Tantular dan Hermanus Hasan Muslim. Dua orang ini sudah ditahan dan seharusnya, menurut saya, kasusnya sudah selesai. Ibu dulu hanya menjadi saksi dalam kasus mereka berdua karena kredit-kredit tersebut cair karena perintah mereka, bukan Ibu. Bahkan, tanda tangan Ibu pun “dilangkahi”. Pertanyaan saya, mengapa Ibu dijadikan tersangka? Nonsens.

Oleh karena itulah, saya optimistis. Saya tahu bahwa Ibu tidak bersalah, walaupun saya ‘awam’ dalam dunia hukum perbankan. Saya selalu berkata kepada Ibu bahwa semua akan baik-baik saja karena itulah yang saya percayai, bahwa negara ini (seharusnya) melindungi mereka yang tidak bersalah, bahwa negara ini adalah negara hukum.

Sampai akhirnya, pada tanggal 25 Januari 2011, sehari sebelum saya ujian Introduction tο Financial Accounting, saya harus menerima sesuatu yang, sedikit-banyak, menghancurkan mimpi yang telah saya bangun bertahun-tahun, dalam sekejap.

Hari itu seharusnya menjadi hari yang biasa-biasa saja. Ujian hari itu bisa saya kerjakan dengan baik. Saya pulang cepat dari kampus, tidur siang, bangun dan menonton televisi. Ibu pulang malam. Status BBM salah seorang tante berisi: “Deep sorrow, Arga”. (Nama Ibu adalah Arga Tirta Kirana). Saat itu, untuk sejenak, saya tidak mau tahu apa yang terjadi. Hari itu, Ibu dan Papa pergi ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat untuk mendengar pembacaan tuntutan.

Ibu dituntut kurungan 10 tahun penjara dan denda sebesar 10 miliar rupiah.

Sesak napas. Yang terasa cuma air mata yang tidak berhenti.

Mungkin, ini cuma mimpi buruk… Mungkin, ketika terbangun, ternyata kasus ini sudah berakhir, dan saya bisa menjalani hidup yang “biasa” lagi dengan Ibu, Papa, dan dua adik-adik yang masih kecil. Walau hidup kami tidak mewah, tetapi bahagia. Tidak harus ada sidang, tidak harus ada penyidikan di Bareskrim, tidak harus ada pulang larut karena harus ke kantor pengacara, tidak harus melewatkan makan malam yang biasanya dinikmati bersama-sama.

Saya kangen Ibu masak di rumah: pudding roti, spaghetti, roast chicken, sop buntut, apa pun. Saya kangen pergi ke luar kota, walau cuma ke Bogor, bersama keluarga. Hal-hal kecil yang sudah tidak bisa kami nikmati lagi. Kalau ini hanya mimpi buruk, saya mau cepat-cepat bangun.

Mungkin saya tidak sepintar banyak orang di luar sana, terutama para ahli hukum: mulai dari hakim, jaksa, sampai pengacara ataupun notaris. Saya tiga kali mencoba untuk diterima di FHUI, dan tiga kali gagal. Tapi, saya bisa menilai bahwa tuntutan yang diajukan itu tidak masuk di akal.

Gayus–kita semua tahu kasusnya, kekayaannya, kontroversinya–divonis 7 tahun penjara dan denda 300 juta. Robert Tantular dituntut hukuman penjara selama 8 tahun dan Hermanus Hasan Muslim dituntut hukuman penjara selama 6 tahun dari PN Jakarta Pusat. Lalu, mengapa Ibu 10 tahun? Setolol dan seaneh apa pun saya, saya cukup waras untuk tidak sanggup mengerti konsep tersebut menggunakan nalar dan logika saya. Apakah karena keluarga kami tidak memiliki uang? Ataukah karena Ibu justru terlalu baik?

Ini negara yang saya dulu percayai, negara yang katanya berlandaskan hukum. Atas nama Indonesia, saya dulu pergi ke forum Internasional Global Changemakers. Atas nama Indonesia, saya mengikuti summer course di Montana. Untuk Indonesia, saya memiliki ide dan mengajak teman-teman menyelenggarakan Indonesian Youth Conference 2010.

Indonesia yang sama yang membiarkan ketidakadilan menggerogoti penduduknya. Indonesia yang sama yang membiarkan siapa pun mengambinghitamkan orang lain ketika berbuat kesalahan, selama ada uang. Indonesia yang sama yang menghancurkan mimpi-mimpi saya.

“Apa yang Alanda ingin lakukan sepuluh tahun lagi?”

Sebelumnya saya tahu, saya punya begitu banyak mimpi yang ingin dicapai, untuk membuat Ibu bangga, dan–mungkin–untuk Indonesia. Ingin mendirikan sekolah supaya pendidikan di Indonesia menjadi lebih baik, ingin menyelenggarakan IYC terus-menerus agar ada banyak agen perubahan di Indonesia, ingin ini dan ingin itu.

Keinginan-keinginan itu mati tanpa diminta. Sekarang hanya ingin Ibu bebas dari seluruh kasus tersebut. Sekarang hanya ingin hidup bahagia bersama Ibu, Papa, dan adik-adik–di rumah kami yang tidak besar, tetapi cukup nyaman; jalan-jalan dengan mobil yang tidak mahal, tetapi bisa membawa kami pergi ke tempat-tempat menyenangkan.

Saya mau ada Ibu di ulang tahun saya yang kedua puluh, dua minggu lagi. Saya mau ada Ibu di peluncuran buku saya–seperti biasanya. Saya mau ada Ibu waktu nanti saya lulus dan diwisuda. Saya mau ada Ibu ketika saya suatu hari nanti menikah. Saya mau ada Ibu ketika saya hamil dan melahirkan anak-anak saya.

Uang, politik, hukum yang ada di negara ini menghancurkan bayangan saya tentang hal itu. Mungkin selamanya pilar-pilar hukum hanya akan mempermasalahkan kredit-kredit macet, menjebloskan orang-orang ‘kecil’ ke penjara tanpa bukti dan analisis yang komprehensif (maupun putusan yang masuk di akal), bukan 6,7T yang entah ada di mana saat ini.

Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat pemuda-pemuda optimis berhenti berkarya untuk Indonesia. Mungkin hal-hal seperti ini yang membuat individu-individu brilian memilih untuk tinggal dan berkarya bagi negara lain… agar keluarga mereka tetap utuh. Supaya mereka tidak harus menghadapi ketidakadilan yang menjijikkan seperti ini.

Saya mau Ibu ada di rumah, Indonesia. Tidak di penjara, tidak di tempat lain, tetapi di rumah, bersama saya, Papa, Aisya, dan Fara.

Hari Kamis, Ibu akan membacakan pleidoi (pembelaan) di PN Jakarta Pusat. Ibu akan menceritakan seluruh kejadian yang beliau alami dan mengapa seharusnya beliau tidak mengalami tuduhan apalagi tuntutan ini.

Saya mohon doanya buat Ibu, walau mungkin Anda tidak pernah mengenalnya. Ia berjasa besar bagi saya, dan saya yakin, bagi banyak orang di luar sana. Beliau membutuhkan doa, dukungan, dan bantuan dari banyak orang.

Even іf I hаνе tο Ɩеt Indonesian Youth Conference ɡο, even іf I hаνе tο work hard 24/7 tο live without having tο аѕk fοr allowances frοm mу mother… I’m willing tο ԁο ѕο.

I јυѕt want hеr tο stay wіth mе… instead οf behind those scary bars. I јυѕt want hеr tο witness everything thаt I wіƖƖ achieve іn thе future. I јυѕt want hеr tο see mу ƖіttƖе sisters grow up, bеаυtіfυƖƖу. I јυѕt want hеr tο always bе thеrе around thе dining table, аnԁ wе’ll hаνе dinner together. I јυѕt want hеr tο cook again fοr thе whole family οn Sunday mornings. I јυѕt want hеr tο Ɩеt mе drive fοr hеr whеn ѕhе hаѕ tο ɡο somewhere. I јυѕt want hеr tο listen tο mу ѕtοrіеѕ аbουt mу boyfriend, mу friend, campus life, οr silly ƖіttƖе things. I јυѕt want hеr here… Here.

I Ɩονе уου, Mum. I ԁο… :’(
sumber: http://hukum.kompasiana.com/2011/02/13/curhat-alanda-doa-anak-buat-sang-ibu/
Read More..

Rabu, 26 Oktober 2011

Kisah Cinta Ibu dan Anak


Posted by elindasari in Renungan.


Ketika saya membaca buku yang berisikan, kata Renungan dari Master Cheng Yen (Pendiri Yayasan Budha Tzu Chi), disana beliau memberi petuah bahwa “Ada dua hal yang tidak bisa ditunda dalam kehidupan”, yaitu : pertama, Berbakti pada Orang tua dan kedua adalah Melakukan kebajikan. Saya jadi teringat, tentang Kisah Cinta seorang Ibu buat anaknya.

Nah, para pembaca penasaran ingin tahu ceritanya, yuk disimak :


Ini terjadi di sebuah desa disuatu negeri, dimana ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya ini mempunyai tabiat yang sangat buruk. Kelakuan anaknya ini suka mencuri, berjudi, mabuk-mabukan dan banyak lagi perbuatan tercela lainnya.

Si Ibu ini jadi sering menangis meratapi nasibnya yang malang. Namun dirinya tetap sering berdo’a memohon kepada Tuhan, “Ya, Tuhanku yang Maha Pengasih dan Penyayang, tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya dia tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati.”

Tapi malang, si ibu tetap saja mendapatkan kelakuan anaknya buruk, malah semakin lama, kelakuan si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya. Saking sudah sangat sering melakukan kejahatan, anaknya ini sampai keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya.

Suatu ketika si anak yang nakal ini kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap basah. Dia di hajar penduduk dan kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan akan dijatuhi hukuman pancung.

Pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada sa’at lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu. Beliau menangis meratapi nasib anak yang dikasihinya dan tetap berdo’a, berlutut dan bersujud kepada Tuhan, “Ya, Tuhanku yang Maha pengampun, mohon ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosanya”, suara parau ibu ini tiada henti emohon kepada-Nya.

Lalu, dengan langkah tertatih-tatih ibu ini mendatangi raja negeri tersebut dan memohon supaya anaknya dibebaskan. Tapi keputusan raja sudah bulat, demi menegakkan keadilan di negeri tersebut, anaknya harus tetap menjalani hukuman.

Dengan hati yang hancur, ibu itu kembali ke rumah. Tapi ibu ini tetap tak hentinya dia berdo’a supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan. Dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan sang pencipta.

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong-bondong akan menyaksikan hukuman tersebut. Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya. Si anak yang nakal ini mulai membayangkan, bahwa di matanya kini hadir wajah ibunya yang sudah tua dan tak lelah selalu menasehati dan mendo’akan dirinya agar kembali ke jalan yang benar, dan tanpa terasa ia menangis da mulai menyesali perbuatannya. Namun nasi sudah menjadi bubur. Dia harus tetap menjalani hukuman atas perbuatannya.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang. Sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang. Petugas mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada.

Sa’at mereka semua sedang bingung, tiba-tiba dari tali lonceng itu mengalir darah. Kucuran darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat. Dengan jantung berdebar-debar seluruh rakyat menantikan sa’at beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah tadi.

Tahukah pembaca apa yang terjadi ?

Ternyata di dalam lonceng itu ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng.

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata karena sedih, haru dan sangat iba. Sementara si anak meraung-raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan, dan mulai menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya.

Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng, memeluk bandul dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya.

(Demikianlah cerita yang mengisahkan bagaimana sangat jelas kasih seorang ibu utk anaknya. Betapapun jahat si anak, ibu akan tetap mengasihi sepenuh hidupnya ! ).

Semoga cerita diatas dapat mengingatkan kita, agar kita seantiasa mengasihi orang tua kita, selagi kita masih mampu, karena mereka adalah sumber kasih dan cinta bagi kita di dunia ini. Dan semoga dapat dijadikan bahan renungan utk kita, agar kita selalu mencintai sesuatu yang berharga yang tidak bisa dinilai dengan apapun.
Jadi, mulai sekarang ambillah waktu :
untuk berpikir, karena itu adalah sumber kekuatan.
untuk bermain, karena itu adalah rahasia dari masa muda yang abadi.
untuk berdoa, karena itu adalah sumber ketenangan.
untuk belajar, karena itu adalah sumber kebijaksana.
untuk mencintai dan dicintai, karena itu adalah hak istimewa yang diberikan Tuhan.
untuk bersahabat, karena itu adalah jalan menuju kebahagiaan.
untuk tertawa, karena itu adalah musik yang menggetarkan hati.
untuk memberi, karena itu membuat hidup terasa berarti.
untuk bekerja, karena itu adalah nilai keberhasilan.
utk beramal, karena itu adalah kunci utk menuju surga.

Oleh karena itu gunakah waktu sebaik mungkin, karena waktu tidak akan bisa diputar kembali. Semoga Setiap Anak dapat berbakti pada kedua Orang Tuanya dan selalu berbuat Kebajikan.

Semoga mamberikan manfa’at dan inspirasi.
Read More..

Minggu, 23 Oktober 2011

Kasih Ibu Tiada Tara

Penulis: Andrie Wongso

Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya. Suaminya sudah lama meninggal karena sakit. Sang ibu sering meratapi nasibnya memikirkan anaknya yang mempunyai tabiat sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mabuk, dan melakukan tindakan-tindakan negatif lainnya. Ia selalu berdoa memohon, "Tuhan, tolong sadarkan anak yang kusayangi ini, supaya tidak berbuat dosa lagi. Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati." Tetapi, si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya.

Suatu hari, dia dibawa kehadapan raja untuk diadili setelah tertangkap lagi saat mencuri dan melakukan kekerasan di rumah penduduk desa. Perbuatan jahat yang telah dilakukan berkali-kali, membawanya dijatuhi hukuman pancung. Diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan di depan rakyat desa keesokan harinya, tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi.



Berita hukuman itu membuat si ibu menangis sedih. Doa pengampunan terus dikumandangkannya sambil dengan langkah tertatih dia mendatangi raja untuk memohon anaknya jangan dihukum mati. Tapi keputusan tidak bisa dirubah! Dengan hati hancur, ibu tua kembali ke rumah.

Keesokan harinya, di tempat yang sudah ditentukan, rakyat telah berkumpul di lapangan pancung. Sang algojo tampak bersiap dan si anak pun pasrah menyesali nasib dan menangis saat terbayang wajah ibunya yang sudah tua.

Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Namun setelah lewat lima menit dari pukul 06.00, lonceng belum berdentang. Suasana pun mulai berisik. Petugas lonceng pun kebingungan karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada. Saat mereka semua sedang bingung, tibatiba dari tali lonceng itu mengalir darah. Seluruh hadirin berdebar-debar menanti, apa gerangan yang terjadi? Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. Dia memeluk bandul dan menggantikannya dengan kepalanya membentur di dinding lonceng.

Si ibu mengorbankan diri untuk anaknya. Malam harinya dia bersusah payah memanjat dan mengikatkan dirinya ke bandul di dalam lonceng, agar lonceng tidak pernah berdentang demi menghindari hukuman pancung anaknya.

Semua orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung-raung menyaksikan tubuh ibunya terbujur bersimbah darah. Penyesalan selalu datang terlambat!

Pembaca yang budiman,

Kasih ibu kepada anaknya sungguh tiada taranya. Betapun jahat si anak, seorang ibu rela berkorban dan akan tetap mengasihi sepenuh hidupnya. Maka selagi ibu kita masih hidup, kita layak melayani, menghormati, mengasihi, dan mencintainya. Perlu kita sadari pula suatu hari nanti, kitapun akan menjadi orang tua dari anak-anak kita, yang pasti kita pun ingin dihormati, dicintai dan dilayani sebagaimana layaknya sebagai orang tua.

Bila hidup diantara keluarga ataupun sebagai sesama manusia jika kita bisa saling menghargai, menyayangi, mencintai, dan melayani, niscaya hidup ini akan terasa lebih indah dan membahagiakan.
Read More..